PM2.5 Palangkaraya Masuk Kategori Berbahaya, Masyarakat Diminta Waspadai Dampak Kesehatan

Sumber data: https://www.bmkg.go.id/kualitas-udara/pm25

Hujan yang mulai turun di sejumlah wilayah belum menjadi alasan untuk mengabaikan risiko pencemaran udara. Masyarakat tetap perlu memantau kualitas udara dan mewaspadai dampak paparan partikel halus PM2.5, terutama di wilayah yang masih terdampak asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Berdasarkan tangkapan layar laman pemantauan kualitas udara Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Jumat (23/10/2026) pukul 11.00 WIB, konsentrasi PM2.5 di Palangkaraya tercatat sebesar 1.371,5 mikrogram per meter kubik (µg/m³). Nilai tersebut masuk kategori berbahaya berdasarkan klasifikasi yang ditampilkan pada laman BMKG.
Grafik yang sama menunjukkan perbedaan konsentrasi PM2.5 di sejumlah lokasi pemantauan di Indonesia. Data ini merupakan gambaran pada waktu pengamatan dan dapat berubah seiring kondisi atmosfer maupun sumber pencemaran.
PM2.5 adalah partikel berukuran 2,5 mikrometer atau lebih kecil yang dapat masuk jauh ke dalam paru-paru. Asap karhutla merupakan salah satu sumber partikel tersebut, tetapi data PM2.5 saja tidak cukup untuk memastikan bahwa seluruh pencemaran di suatu wilayah berasal dari kebakaran.

Daerah dalam grafik berdasarkan urutan PM2.5
Berdasarkan urutan batang dalam grafik BMKG yang dikirimkan, lokasi pemantauan dari konsentrasi tertinggi terdapat di Palangkaraya, diikuti Muaro Jambi, Kubu Raya, Sintang dan lainnya (https://www.bmkg.go.id/kualitas-udara/pm25).
Urutan tersebut mengikuti grafik pada tangkapan layar pukul 11.00 WIB. Nilai numerik sebagian besar lokasi tidak terbaca dengan jelas sehingga tidak dicantumkan. Daftar ini juga tidak dapat digunakan sebagai peringkat kualitas udara terkini tanpa memeriksa pembaruan data.
Masyarakat dapat memantau informasi terbaru melalui laman kualitas udara PM2.5 BMKG.

Dampak PM2.5 terhadap kesehatan
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan bahwa asap kebakaran dapat mengandung partikel halus dan berbagai polutan yang berdampak pada kesehatan. Gejala akibat paparan dapat berkisar dari iritasi ringan hingga gangguan pernapasan dan kardiovaskular yang lebih serius.
Sejumlah dampak kesehatan yang perlu diwaspadai meliputi:

  • Iritasi mata dan tenggorokan. Paparan asap dapat menyebabkan mata perih, hidung berair, tenggorokan terasa kering, dan batuk.
  • Gangguan pernapasan. Sebagian orang dapat mengalami mengi, dada terasa tidak nyaman, atau sesak napas. Paparan dapat memperburuk asma dan penyakit paru kronis.
  • Perburukan penyakit jantung. Polusi partikel dikaitkan dengan dampak kardiovaskular. Orang yang telah memiliki penyakit jantung perlu lebih berhati-hati ketika kualitas udara memburuk.
  • Risiko bagi kelompok rentan. Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit jantung atau paru membutuhkan perlindungan lebih besar.
    Dampak yang muncul pada setiap orang tidak selalu sama. Tingkat paparan, durasi paparan, dan kondisi kesehatan turut memengaruhi risiko.
Sumber data: https://www.bmkg.go.id/kualitas-udara/pm25

Langkah menjaga kesehatan saat kualitas udara memburuk
Masyarakat dapat mengurangi risiko paparan melalui beberapa tindakan berikut.
1. Pantau informasi kualitas udara. Periksa pembaruan PM2.5 dari BMKG dan ikuti imbauan resmi. Jangan hanya mengandalkan bau asap atau kondisi langit untuk menilai apakah udara aman.
2. Kurangi aktivitas luar ruangan. Ketika kualitas udara tidak sehat, batasi olahraga dan pekerjaan fisik berat di luar ruangan. Jika memungkinkan, tunda kegiatan yang tidak mendesak.
3. Lindungi kelompok rentan. Kurangi paparan anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit jantung atau paru. Pastikan orang yang memiliki penyakit kronis mengikuti rencana pengobatan dari tenaga kesehatan.
4. Jaga kualitas udara dalam ruangan. Tutup pintu dan jendela saat asap masuk dan kualitas udara di luar lebih buruk. Jika tersedia, gunakan penyaring udara yang sesuai. Hindari merokok dan membakar sampah di dalam atau dekat rumah.
5. Gunakan respirator bila harus keluar. Respirator N95 yang terpasang rapat dapat membantu mengurangi paparan partikel halus. Namun, alat ini tidak melindungi dari seluruh gas berbahaya dan bukan pengganti upaya menghindari sumber asap.
6. Kenali tanda bahaya. Segera cari pertolongan medis jika muncul sesak napas berat, nyeri dada, bibir kebiruan, kebingungan, atau penurunan kesadaran. Jika penderita asma atau penyakit jantung mengalami gejala yang memburuk, jangan menunda pemeriksaan.

Hujan turun, kewaspadaan jangan ikut reda
Hujan dapat membantu membasahi lahan dan mengurangi sebagian partikel di udara, tetapi dampaknya bergantung pada intensitas hujan, kondisi lahan, serta keadaan atmosfer. Turunnya hujan juga tidak otomatis memastikan bahwa bara api di bawah permukaan tanah telah padam.
Karena itu, masyarakat perlu tetap memantau kualitas udara dan mengikuti informasi dari instansi terkait. Apabila menemukan lokasi yang masih mengeluarkan asap, laporkan kepada petugas dan hindari mendekati area tersebut.
Kewaspadaan perlu ditingkatkan ketika data menunjukkan kualitas udara yang buruk, sekalipun hujan sudah turun. Jangan menunggu munculnya sesak napas atau keluhan serius untuk mulai mengurangi paparan. Memantau informasi, membatasi aktivitas luar ruangan, dan melindungi kelompok rentan merupakan langkah penting untuk menjaga kesehatan.

Reporter: Pangandaran Prime
Editor: Pangandaran Prime